Jumat, 30 Januari 2015

           Ketika kemajuan teknologi informasi semakin canggih dan semakin pesat perkembangannya , merasuki semua aspek kehidupan manusia di muka bumi. Dimana hampir semua aspek finansial, tata kelola di satu kelompok masyarakat bahkan untuk mengatur sebuah negara dilakukan dengan satu perangkat teknologi informasi.
            Secara tidak sadar kita cenderung digiring pada suatu perangkap dimana pencipta perangkat teknologi informasi akan menguasai semua aspek kehidupan masyarakat dunia.
Saat ini semua aktifitas ekonomi, politik, sosial, budaya hampir semua mengandalkan perangkat jejaring sosial, barangkali sdh tidak ada lagi yg namanya dokumen rahasia yg disimpan dalam tempat yg terkunci tertutup rapat spt dahulu.
            Barangkali bukan hal yg tdk mungkin suatu saat nanti sang pencipta teknologi ini akan menjadi penguasa dunia yg ditakuti .

Jumat, 02 Januari 2015

Empat tingkatan manusia ketika Musibah menimpa



Kondisi manusia dalam menghadapi musibah ada empat tingkatan:

Tingkatan pertama, menggerutu (mendongkol) terhadapnya. Tingkatan ini ada beberapa macam:
Pertama: Direfleksikan dengan hati, seperti seseorang yang menggerutu terhadap Rabb-nya dan geram terhadap takdir yang dialaminya; perbuatan ini hukumnya haram dan bisa menyebabkan kekufuran. Allah Ta’ala berfirman,

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ عَلَى حَرْفٍ فَإِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ اطْمَأَنَّ بِهِ وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ انْقَلَبَ عَلَى وَجْهِهِ خَسِرَ الدُّنْيَا وَالآخِرَةَ ذَلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ (١١)

“Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat.” (Al-Hajj: 11).
Kedua: Direfleksikan dengan lisan, seperti berdoa dengan umpatan ‘celaka’, ‘hancurlah’ dan sebagainya; perbuatan ini haram  hukumnya.
Ketiga: Direfleksikan dengan anggota badan, seperti menampar pipi, menyobek kantong baju, mencabut bulu dan sebagainya; semua ini adalah haram hukumnya karena menafikan kewajiban bersabar.

Tingkatan kedua, bersabar atasnya. Hal ini senada dengan ungkapan seorang penyair,

وَالصَّبْرُ مِثْلُ اسْمِهِ مُرٌّ مَذَاقَتُهُ لَكِنْ عَوَاقِبُهُ أحَلْىَ مِنَ الْعَسَلِ.

Sabar itu seperti namanya, pahit rasanya. Akan tetapi hasilnya lebih manis daripada madu.
Orang yang dalam kondisi ini beranggapan bahwa musibah tersebut sebenarnya berat baginya akan tetapi dia kuat menanggungnya, dia tidak suka hal itu terjadi akan tetapi iman yang bersemayam di hatinya menjaganya dari menggerutu (mendongkol). Terjadi dan tidak terjadinya hal itu tidak sama baginya.

Perbuatan seperti ini wajib hukumnya karena Allah Ta’ala memerintahkan untuk bersabar sebagaimana dalam firman-Nya,
وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ (٤٦)

“Dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Al-Anfal: 46).

Tingkatan ketiga, ridha terhadapnya seperti keridhaan seseorang terhadap musibah yang dialaminya di mana baginya sama saja; ada dan tidak adanya musibah tersebut. Adanya musibah tidak membuatnya sesak dan menanggungnya dengan perasaan berat. Sikap seperti ini dianjurkan tetapi bukan suatu kewajiban menurut pendapat yang kuat.
Perbedaan antara tingkatan ini dengan tingkatan sebelumnya amat jelas sekali, sebab dalam tingkatan ini ada dan tidak adanya musibah sama saja bagi orang yang mengalaminya sementara pada tingkatan sebelumnya, adanya musibah dirasakan sulit baginya tetapi dia bersabar atasnya.


Tingkatan keempat, bersyukur atasnya. Ini merupakan tingkatan paling tinggi. Hal ini direfleksikan oleh orang yang mengalaminya dengan bersyukur kepada Allah atas musibah apa saja yang dialami. Dalam hal ini, dia mengetahui bahwa musibah ini merupakan sebab (sarana) untuk menghapus semua kejelekan-kejelekannya (dosa-dosa kecilnya) dan barangkali bisa menambah kebaikannya. Rasulullah SAW bersabda,

مَا مِنْ مُصِيْبَةٍ تُصِيْبُ الْمُسْلِمَ إِلاَّ كَفَّرَ اللهُ بِهَا عَنْهُ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا.

“Tiada suatu musibah pun yang menimpa seorang Muslim, melainkan dengannya Allah hapuskan (dosa-dosa kecil) darinya sampai-sampai sebatang duri pun yang menusuknya.”( Shahih Al-Bukhari, kitab Al-Mardla, no. 5640; Shahih Muslim, kitab Al-Birr wa Ash-Shilah, no. 2572.)
( Kumpulan Fatwa dan Risalah Syaikh Ibnu Utsaimin, Juz II, hal. 109-111. ) alsofwa.com

Selasa, 30 Desember 2014

Ketika Do'a kita sulit Terkabul



10 Hal yang membuat Doa tidak terkabul
1.Kamu mengenal Allah, tapi kamu tidak melaksanakan hak-Nya.
2.Kamu membaca kitab Allah, tapi kamu tidak pernah mengamalkannya.
3.Kamu tahu bahwa iblis adalah musuh, tapi kamu tetap mengikutinya perintahnya.
4.Kamu menyatakan cinta kepada Rasullullah SAW, tapi kamu meninggalkan sunnahnya.
5.Kamu menyatakan ingin masuk surga, tapi kamu tidak pernah mengamalkan amalan ahli surga.
6.Kamu mengaku takut masuk neraka. tapi kamu tetap berbuat dosa.
7.Kamu tahu kematian pasti datang, tapi kamu tidak pernah melakukan persiapan untuk mati.
8.Kamu selalu memperhatikan kesalahan orang lain, tapi kamu tidak memperhatikan kesalahan kesalahanmu sendiri.
9.Kamu senang memakan rizqi dari Allah, tapi kamu tidak pernah bersyukur pada-Nya.
10.Kamu sering mengantar jenazah ke kubur, tapi kamu tidak mau mengmbil pelajaran darinya.

=======================
Jika ada yang bertanya, “Aku sudah seringkali berdo'a, namun mengapa impianku belum tercapai juga?” Kami bisa memberi jawaban sebagai berikut:

Pertama: Do'a boleh jadi terkabul, namun kita saja yang tidak mengetahui bentuk terkabulnya. Terkabulnya do'a bisa jadi dengan dipalingkan dari kejelekan dari do'a yang kita minta. Dan boleh jadi Allah simpan terkabulnya do'a tadi di akhirat kelak. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Tidaklah seorang muslim memanjatkan do’a pada Allah selama tidak mengandung dosa dan memutuskan silaturahmi (antar kerabat, pen) melainkan Allah akan beri padanya tiga hal: [1] Allah akan segera mengabulkan do’anya, [2] Allah akan menyimpannya baginya di akhirat kelak, dan [3] Allah akan menghindarkan darinya kejelekan yang semisal.” Para sahabat lantas mengatakan, “Kalau begitu kami akan memperbanyak berdo’a.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata, “Allah nanti yang memperbanyak mengabulkan do'a-do'a kalian.” (HR. Ahmad, dari Abu Sa'id; derajat hasan)
Contohnya seseorang berdo'a, “Allahummar-zuqnii, Allahummar-zuqnii” (Ya Allah, berilah aku rizki. Ya Allah, berilah aku rizki). Boleh jadi do'a tersebut, Allah kabulkan segera atau diakhirkan. Allah Ta'ala Maha Mengetahui yang terbaik untuk hamba tersebut. Bahkan boleh jadi pula, Allah simpan do'a tersebut untuk meninggikan derajatnya di surga. Ini tentu saja lebih tinggi dari kebahagiaan di dunia. Kebahagiaan di akhirat kelak tentu jauh berbeda dari kebahagiaan di dunia. Malik bin Dinar mengatakan,
“Seandainya dunia adalah emas yang akan fana, dan akhirat adalah tembikar yang kekal abadi, maka tentu saja seseorang wajib memilih sesuatu yang kekal abadi (yaitu tembikar) daripada emas yang nanti akan fana. Lalu bagaimana lagi jika akhirat itu adalah emas yang akan kekal abadi dan dunia adalah tembikar yang akan fana?”[5]

Kedua: Terkabulnya do'a boleh jadi diakhirkan agar seseorang tetap giat dan bersemangat dalam berdo'a. Ketika ia giat berdo'a, maka ia pun akan mendapatkan ketinggian derajat di akhirat kelak. Cobalah kita perhatikan apa yang terjadi pada para Nabi 'alaihimush sholaatu wa salaam. Mereka terus saja berdo'a dan memperbanyak do'a, namun terkabulnya do'a mereka diakhirkan agar mereka tetap semangat dalam berdo'a. Di antara contohnya adalah Nabi Ayyub 'alaihis salam yang diberi cobaan penyakit selama 18 tahun sehingga ia pun dijauhi kerabat dan yang lainnya. Namun ia tetap terus berdo'a dan berdo'a. Allah pun memujinya karena kesabarannya tersebut,
“Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhan-nya).” (QS. Shaad: 44)[6]

Ketiga: Boleh jadi do'a tersebut sulit terkabul karena beberapa faktor penghalang. Di antara faktor penghalang adalah seseorang mengangkat tangan ke langit, namun ia sering mengkonsumsi makanan, minuman dan menggunakan pakaian yang haram atau diperoleh dari hasil yang haram (sebagaimana disebut dalam hadits riwayat Muslim no. 1015, dari Abu Hurairah). Inilah yang membuat do'a seseorang sulit terkabul. Oleh karena itu, sudah sepantasnya kita rajin mengintrospeksi diri, siapa tahu do'a kita tidak kunjung terkabul karena sebab mengkonsumsi yang haram.

Minggu, 21 Desember 2014

Ketika Bencana itu menimpa



Merujuk pada al-Qur’an, bencana itu datang karena beberapa faktor, di antaranya adalah:

1. Maraknya “kesyirikan” Alloh Ta’ala   berfirman ( surat al An’am: 64-65) 64.
Katakanlah:"Allah menyelamatkan kamu dari bencana itu dan dari segala macam kesusahan, Kemudian kamu kembali mempersekutukan-Nya."
65. Katakanlah: " dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu,dari atas kamu atau dari bawah kakimu atau dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian kamu keganasansebahagian yang lain.
Perhatikanlah, betapa kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran kami silih berganti agar mereka memahami(nya)". (QS al An’am/6:64-65)
Keterangan : azab yang datang dari atas seperti hujan batu, petir dan lain lain. yang datang dari bawahseperti gempa bumi, banjir dan sebagainya.
Katakanlah: "Adakanlah perjalanan di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang terdahulu.
kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah)." (QS ar Ruum/30:42)

2. Kemaksiatan yang merajalela Firman Allah Ta’ala ( surat ar Ruum/30: 41)
“Telah nampak kerusakan didarat dan di laut disebabkan Karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” .
(QS ar Ruum/30:41)
Ibnu Katsir menafsirkan: “di laut” maksudnya wilayah yang ada di pesisir laut/pantai.
Sedangkan “perbuatan mereka” maksudnya adalah karena banyaknya maksiat yang mereka lakukan.
Wallohu A’lam Juga firman Allah Ta’ala ( surat al Isro’/17: 85) “Tak ada suatu negeripun (yang durhaka penduduknya), melainkan kami membinasakannya sebelum hari kiamat atau kami azab (penduduknya) dengan azab yang sangat keras. yang demikian itu Telah tertulis di dalam Kitab (Lauh mahfuzh) (al Isro’/17:48)
Dan banyak lagi ayat-ayat alQur’an yang menginformasikan tentang hal ini, termasuk bencana yang menimpa kaum Nuh, ‘Ad, Tsamud, Madyan dll karena kemusyrikan, kemaksiatan serta keangkuhan mereka (tidak mau menerima yang haq) padahal telah jelas keterangan yang haq (al-Qur’an) dari Alloh namun mereka lebih memilih kesesatan.

Minggu, 16 November 2014

Roda kehidupan di dunia ini tak ada yg abadi, semua pasti berlalu. Setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Setiap orang akan punya cerita dan alur hidup sendiri-sendiri dalam mengarungi jatah usianya..... keep do the best....God will bless you forever......

Kamis, 06 November 2014

Tips Sehat islami



Dosen Fakultas Kodekteran UNS, Prof. Dr. dr. H. Much Syamsul Hadi, Sp. KJ, pernah ditanya,

“Apakah benar dengan membaca Al-Quran jiwa kita akan sehat? adakah hubungan hal ini dengan kesehatan?” Pasalnya banyak teman menyarankan saya jika jiwa dan fikiran saya sedang gelisah dan kalut, saya disuruh membaca Al-Qur’an
Beliau menjawab,
“Saran teman anda agar membaca Al-Qur’an tatkalah kesedihan melanda itu benar. Hal ini sesuai dengan janji Allah, bahwa apabila kita mengingat Allah, salah satunya dengan membaca Al-Qur’an, maka hati kita akan menjadi tenteram.
Nah, apakah hal itu sesuai dengan ilmu kedokteran?
Ya, jelas sesuai dengan ilmu kedokteran. Dengan catatan ada persyaratannya, yaitu:
Pertama, pembaca tersebut beriman sungguh sungguh kepada Allah, Al-Qur’an dan Al-Hadits
Kedua, dibaca dengan khusyu
Ketiga, dimengerti arti dan tafsirnya
Kalau persyaratan-persyaratan tersebut benar-benar dijalankan, maka dalam ilmu kedokteran difahami akan terjadi suatu relaksasi fisik dan mental, yang akan berakibat aktivasi syaraf parasimpatis, menurunnya kadar kortizol, dan naiknya kekebalan tubuh.
Hal ini karena menurunnya sitokin proinflamasi yang akhirnya denyut nadi menurun, tekanan darah menurun, tak terjadi kenaikan sekresi getah lambung, dan si pelaku akan menjadi tenang tak gelisah lagi”
(Dikutip dari majalah Hadila Edisi Spesial 2013)

Minggu, 02 November 2014

AYAH

The Last November,

Ketika tiba-tiba teringat masa melepas kepergianmu.
Engkau pergi meninggalkan kami anak-anakmu.
Setelah berpuluh tahun bermandikan peluh tanpa mengeluh
Untuk terus berjuang demi kami anak-anakmu
Sungguh luar biasa semua pengorbanan yg engkau berikan
Hingga kami bisa mandiri

Maafkan kami bila tak sempat membalas jasamu Ayah
Dunia yg tak pernah engkau nikmati
Seakan kami rampas dari genggamanmu
Keihklasan, ketegaran dan semangat juangmu semoga bisa kami pelihara

Ya Tuhan ..... tempatkanlah beliau di tempatMu yang paling mulia..
Hanya do'a dan sujud kami yg bisa kupersembahkan untuk membalas jasamu
Terimalah semua amal ibadah beliau dan ampunilah segala kekhilafannya...
Amiiin Ya Rabbal a"lamiin......